Wednesday, 7 October 2015

Motivasi Belajar

1.  Hakikat Motivasi Belajar


Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/aktivitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan sasaran sebagai berikut: (a) mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan atas pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini, motivasi merupakan motor penggerak dari setiap kebutuhan yang akan dipenuhi, (b) menentukan arah tujuan yang hendak dicapai, dan (c) menentukan perbuatan yang harus dilakukan (Uno, 2010:9).  Menurut Mc. Donald (dikutip Sardiman, 2011:73—74), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting.

  1. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
  2. Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/”feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah-laku manusia.
  3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yaitu tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Motivasi berasal dari kata motif. Motif berarti suatu perangsang atau dorongan dari dalam (inner drive) yang menyebabkan seseorang membuat sesuatu. Simanjuntak (http://duniabaca.com) mengatakan bahwa, motivasi dalam sekolah merupakan proses bagaimana menumbuhkan dan menimbulkan dorongan supaya seseorang berbuat atau belajar. Motivasi adalah dorongan jiwa atau hasrat untuk melakukan kegiatan belajar belajar. Aspek yang terkait dengan motivasi adalah minat, kesadaran, semangat, keinginan, cita-cita, kesukaan, kebutuhan untuk berprestasi, dan dorongan ingin tahu (tersedia dalam http://www.scribd.com).

Desslerr (dikutip Kuswadi) mengemukakan bahwa: Motivate to represent matter modestly because people is basically motivated or impelled for berperilaku in way of certain felt instruct at deserts acquirement. Artinya : Motivasi merupakan hal yang sederhana karena orang-orang pada dasarnya termotivasi atau terdorong untuk berperilaku dalam cara tertentu yang dirasakan mengarah pada perolehan ganjaran (tersedia dalam http://duniabaca.com).

Lebih lanjut As’ad (tersedia dalam: http://duniabaca.com)  mengemukakan bahwa: Motivate is oftentimes interpreted with motivation term, the energy or motivation represent soul motion and corporeal to do so that the the motif represent a driving force moving human being to comport, and in its deed have a purpose certain. Artinya: Motivasi seringkali diartikan dengan istilah dorongan, dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat sehingga motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku dan didalam perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu.

Motivasi menjadi suatu hal yang sangat penting tatkala kita akan melakukan sesuatu. Ada beberapa definisi motivasi belajar selain yang disebutkan di atas, yaitu:

  1. Motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan, memberikan arah dan memberi kekuatan, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
  2. Definisi motivasi belajar yang dikemukakan Davis (dikutip Andayani, 2006:25): “Motive or motivation refers to an internal state resulting from a need which incites behaviour, usually directed towarked fulfilling the need.” Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa motivasi merupakan sesuatu yang berasal dari dalam diri seseorang yang muncul dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
  3. Definisi motivasi belajar yang dikemukakan Nasution (1993:08) menyatakan bahwa: Motivasi adalah kondisi psikologis seseorang untuk melakukan sesuatu.
  4. Definisi motivasi belajar yang dikemukakan Sardiman (2007:75): Keseluruhan daya dan penggerak psikis dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar demi mencapai tujuan.
  5. Definisi motivasi belajar yang dikemukakan Winkel (1983:27) menyatakan: Motivasi belajar merupakan faktor psikis, yang bersifat nonintelektual yang berperan dalam hal gairah belajar. Siswa yang bermotivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan (tersedia dalam http://ahli-definisi.blogspot.com).

Selanjutnya, Thomas M. Risk (dikutip Rohani, 2004:11) memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: We may definen motivation, in a pedagogical sense, as the conscious effort on the part of the teacher to establish in students motives leading to sustained activity toward the learning goals (Motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik/pelajar yang menunjang kegiatan kea rah tujuan-tujuan belajar). Selanjutnya, Nasution (dikutip Rohani, 2004:11) mengemukakan: “To motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing” (Motivasi anak/peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya).

Motivasi tumbuh dari dalam diri seseorang. Akan tetapi, motivasi dapat dirangsang dari luar. Guru dapat melakukan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual.

Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayut dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar. Jagi tugas guru bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman, 2011:75—76).



2. Kebutuhan dan Teori tentang Motivasi


Memberikan motivasi kepada seseorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan  sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar. Menurut Morgan yang dikutip Nasution (dikutip Sardiman, 2011:78—81), manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.

  1. Kebutuhan untuk berbuat sesuatu aktivitas.

Hal ini sangat penting bagi anak, karena perbuatan sendiri itu mengandung suatu kegembiraan baginya. Sesuai dengan konsep ini, bagi orang tua yang memaksa anak untuk diam di rumah saja adalah bertentangan dengan hakikat anak. aktivities in it self is a pleasure. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu kegiatan belajar bahwa pekerjaan atau belajar itu akan berhasil kalau disertai dengan rasa gembira.

  1. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.

Banyak orang yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil tidaknya usaha memberikan kesenangan pada orang lain. Hal ini sudah barang tentu merupakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut. Konsep ini dapat diterapkan pada berbagai kegiatan, misalnya anak-anak itu rela bekerja atau para siswa itu rajin/rela belajar apabila diberikan motivasi untuk melakukan sesuatu kegiatan belajar untuk orang yang disukainya (misalnya bekerja, belajar demi orang tua, atau orang yang sudah dewasa akan bekerja, belajar demi seseorang calon teman hidupnya).

  1. Kebutuhan untuk mencapai hasil.

Suatu pekerjaan atau kegiatan itu akan berhasil baik, kalau disertai dengan “pujian”. Aspek “pujian” ini merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja dan belajar dengan giat. Apabila hasil pekerjaan atau usaha belajar itu tidak dihiraukan orang lain/guru atau orang tua misalnya, boleh jadi kegiatan anak menjadi berkurang. Dalam kegiatan belajar-mengajar istilahnya perlu dikembangkan unsur reinforcement. Pujian atau reinforcement ini harus selalu dikaitkan dengan prestasi yang baik. Anak-anak harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan sesuatu dengan hasil yang optimal, sehingga ada “sense of sucses”. Dalam kegiatan belajar-mengajar, pekerjaan atau kegiatan itu dimulai dari yang mudah/sederhana dan bertahap menuju sesuatu yang semakin sulit/kompleks.

  1. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.

Suatu kesulitan atau hambatan mungkin cacat, mungkin menimbulkan rasa rendah diri, tetapi hal ini menjadi dorongan untuk mencari kompensasi dengan usaha yang tekun dan luar biasa, sehingga tercapai kelebihan/keunggulan dalam bidang tertentu. Sikap anak terhadap kesulitan atau hambatan ini sebelumnya banyak bergantung pada keadaan dan sikap lingkungan. Sehubungan dengan ini maka peranan motivasi sangat penting dalam upaya menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang lebih kondusif bagi mereka untuk berusaha agar memperoleh keunggulan.

         Kebutuhan manusia seperti telah dijelaskan di atas senantiasa akan selalu berubah. Begitu juga motif, motivasi yang selalu berkait dengan kebutuhan tentu akan berubah-ubah atau bersifat dinamis, sesuai dengan keinginan dan perhatian manusia. Relevan dengan soal kebutuhan itu maka timbullah teori tentang motivasi.

         Teori tentang motivasi ini lahir dan awal perkembangannya ada di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas. Dalam hal ini ada beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergaya dengan soal kebutuhan, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat, dan sebagainya;
  2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan;
  3. Kebutuhan akan cinta dan kasih: kasih, rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan (keluarga, sekolah, kelompok);
  4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial, pembentukan pribadi.

    3.  Fungsi Motivasi dalam Belajar
    Motivasi mendorong manusia untuk melakukan suatu kegiatan/pekerjaan. Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.
              Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Seperti disinggung di atas, bahwa walaupun di saat siang bolong si abang becak itu juga menarik becaknya karena bertujuan untuk mendapatkan uang guna menghidupi anak dan istrinya. Juga para pemain sepak bola rajin berlatih tanpa mengenal lelah, karena mengharapkan akan mendapatkan kemenangan dalam pertandingan yang akan dilakukannya. Dengan demikian, motivasi memengaruhi adanya kegiatan.
                Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi sebagai berikut.

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Di samping itu, ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya (Sardiman, 2011:84—86).



4.  Macam-macam Motivasi


Menurut Sardiman (2011:86—91) berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi.

  1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya


  1. Motif-motif bawaan
    Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejal lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Fransen memberi istilah jenis motif Physiological drives.
  2. Motif-motif yang dipelajari
    Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ‘ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesama, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
    Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:

  1. Cognitive motives
    Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
  2. Self-expression
    Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekadar tahu mengapa dan bagaiamana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
  3. Self-enhancement
    Melalui aktulisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.

  1. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis

  1. Motif kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernapas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis Physiological drives dari Frandsen seperti telah disinggung di depan.
  2. Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
  3. Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

  1. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
    Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah di motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmani seperti misalnya: refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rahaniah adalah kemauan.
         Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.

  1. Momen timbulnya alasan
    Sebagai contoh seorang pemuda yang sedang giat berlatih olah raga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi tiba-tiba disuruh ibunya untuk mengantarkan seseorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini si pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan sesuatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
  2. Momen pilih
    Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seseorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menentukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
  3. Momen putusan
    Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu akan berakhir dengan dipilihnya satu alternatif. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
  4. Momen terbentuknya kemauan
    Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu.

  1. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik

  1. Motivasi intrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret, seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are inherent in the learning situations and meet pupil-needs and purposes. Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
         Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekadar simbol dan seremonial.
  2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.
    Menurut Shaffat (2004:53) mengemukakan bahwa motivasi datang dari dua arah: dari dalam (inside motivation) dan dari luar (outside motivation). Motivasi dari dalam berupa harapan-harapan dan keinginan-keinginan (hopes and expectations) untuk melakukan sesuatu atau untuk menjadi orang tertentu. Motivasi dari dalam muncul karena adanya dorongan psikis (internally driven) untuk melakukan sesuatu karena adanya kepuasan yang disebabkan oleh perbuatan itu. Selanjutnya, motivasi dari luar muncul karena adanya dorongan-dorongan yang diperoleh seseorang dari orang lain baik berupa pergaulan, pendapat, maupun saran, atau lingkungan sekitar (Shaffat, 2004:54).
    Menurut Bandura (dikutip, Hergenhahn, 2008:385) sebagaimana menurut teori Gestalt dan Tolman, penguatan intrinsik lebih penting ketimbang penguatan ekstrinsik. Menurut Bandura, penguatan ekstrinsik justru bisa mereduksi motivasi belajar siswa. Pencapaian tujuan personal juga bisa menguatkan, dan karenanya guru sebaiknya membantu siswa  merumuskan tujuan yang tidak terlalu sulit atau tak terlalu mudah untuk dicapai. Formulasi ini, tentu saja, perlu dirumuskan secara individual untuk masing-masing siswa.  Menurut Roy Garn alam The Magic Power of Emotical Appeal (1960:20), terdapat empat tujuan motivasi, mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah sebagai berikut. (1) Pertahanan diri, seseorang yang berada dalam keadaan terdesak dan tersudut akan berbuat apa saja untuk melawan. Motif ini yang terkuat; (2) Pengakuan, ingin agar dirinya mempunyai arti dan tidak kehilangan identitas serta kebanggaan diri; (3) Cinta kasih, dengan cinta kasih kehidupan seseorang menjadi dinamis dan penuh kegembiraan; dan (4) Uang, mendapatkan yang yang banyak. Tujuan ini yang paling rendah tingkatannya (Shaffat, 2004:40).
    Keller (Tersedia dalam: http://www.acrsmodel.com) mengemukakan bahwa faktor eksternal dan internal sama-sama berperan di dalam membangkitkan motivasi belajar siswa. Dalam model ARCS, motivasi dapat dikembangkan melalui unsur-unsur seperti akronim A (Attention atau perhatian), R (Relevance atau relevan), C (Confidence kepercayaan diri), dan S (Satisfaction kepuasan). Motivasi belajar siswa dapat dilihat secara langsung melalui proses kegiatan pembelajaran yang merujuk pada implementasi ARCS model.

  1. Apakah perhatian siswa kepada materi pembelajaran terfokus atau tidak? Terpusatnya perhatian siswa kepada satu objek akan membawa dampak pada tumbuhnya pemahaman yang mendalam terhadap materi pembelajaran yang disampaikan.
  2. Apakah materi pembelajaran berorientasi pada kebutuhan siswa atau tidak? Kesesuaian antara materi pengajaran dengan tingkat kemampuan siswa akan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pemerolehan pengetahuan, memperbaiki sikap, dan perilaku.
  3. Tumbuh dan berkembangnya keyakinan dan  kepercayaan diri siswa. Belajar ternyata dapat membawa dampak positif terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa, dan bahkan dapat menjadi obat yang mujarab bagi cemerlangnya kehidupan di masa yang akan datang.
  4. Menguatnya harapan positif terhadap pembelajaran. Siswa memiliki keyakinan yang kuat terhadap pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh sehingga dengan kemampuan itu tidak saja mampu menjadikan siswa mudah memperoleh pekerjaan tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Lebih lanjut, Shaffat (2004:55—57) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi manusia dalam berbuat, yaitu: (1) tujuan yang jelas akan membantu seseorang dalam belajar ataupun bekerja; (2) tantangan, manusia dikarunia mekanisme pertahanan diri yang disebut “flight atau flight syndrome”; (3) tanggung jawab (4) kesempatan untuk maju; dan (5) kepemimpinan baik dalam pengertian kepemimpinan bagi diri sendiri maupun kepemimpinan untuk orang lain.



5.  Prinsip-prinsip Motivasi


Berkaitan dengan upaya guru memotivasi peserta didik sebenarnya tidak ada langkah-langkah atau prosedur yang standar. Di bawah ini penulis mencoba menyajikan beberapa prinsip dan prosedur yang perlu mendapat perhatian agar tercapai perbaikan-perbaikan dalam motivasi.

  1. Peserta didik ingin bekerja keras. Ia berminat terhadap sesuatu. Ini berarti bahwa hasil belajar akan lebih baik jika peserta didik dibangkitkan minatnya antara lain dengan cara:

  • membangkitkan kebutuhan pada diri peserta didik seperti kebutuhan psikis, jasmani, sosial, dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidakpuasan yang memerlukan pemuasan,
  • pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan pada peserta didik hendaklah didasari oleh pengalmaan-pengalaman yang sudah dimiliki,
  • berilah kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang baik atau yang diinginkan. Tugas-tugas harus disesuaikan dengan tingkat kesanggupan peserta didik,
  • menggunakan alat-alat peraga dan berbagai metode mengajar.

  1. Tetapkanlah tujuan-tujuan yang terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas, jelas, dan wajar.
  2. Usahakanlah agar peserta didik selalu mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya, janganlah menganggap kenaikan kelas sebagai alat motivasi yang utama. Pengetahuan mengenai kemajuan dan hasil belajar itu akan memperbesar kegiatan belajar dan memperbesar minat.
  3. Hadiah biasanya menghasilkan sebuah/sesuatu yang lebih baik daripada hukuman. Kendatipun demikian adakalanya beberapa jenis hukuman dapat digunakan.
  4. Manfaatkan cita-cita, sikap-sikap, dan rasa ingin tahu peserta didik. Pada umumnya masa praadolesen dan permulaan adolesen memiliki cita-cita yang tinggi dan sering memberi respons dalam bentuk kerja sama, permainan, kerajinan, dan sebagainya. Rasa ingin tahu peserta didik merupakan motivator yang berharga. Jika guru mampu membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik, dorongan itu akan menghasilkan usaha-usaha yang menakjubkan.

2 comments:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 8 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.net
    arena-domino.org
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete