1. Hakikat Motivasi Belajar
Motivasi merupakan
suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar
sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah
laku/aktivitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dengan sasaran
sebagai berikut: (a) mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang
didasarkan atas pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini, motivasi merupakan motor
penggerak dari setiap kebutuhan yang akan dipenuhi, (b) menentukan arah tujuan
yang hendak dicapai, dan (c) menentukan perbuatan yang harus dilakukan (Uno,
2010:9). Menurut Mc. Donald (dikutip
Sardiman, 2011:73—74), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang
yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan
terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini
mengandung tiga elemen penting.
Bahwa motivasi itu
mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem
“neurophysiological” yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut
perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri
manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
Motivasi
ditandai dengan munculnya, rasa/”feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini
motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang
dapat menentukan tingkah-laku manusia.
Motivasi akan dirangsang
karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons
dari suatu aksi, yaitu tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia,
tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam
hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Motivasi berasal dari kata motif.
Motif berarti suatu perangsang atau dorongan dari dalam (inner drive) yang menyebabkan seseorang membuat sesuatu.
Simanjuntak (http://duniabaca.com)
mengatakan bahwa, motivasi dalam
sekolah merupakan proses bagaimana menumbuhkan dan menimbulkan
dorongan supaya seseorang berbuat atau belajar. Motivasi
adalah dorongan jiwa atau hasrat untuk melakukan kegiatan belajar belajar.
Aspek yang terkait dengan motivasi adalah minat, kesadaran, semangat,
keinginan, cita-cita, kesukaan, kebutuhan untuk berprestasi, dan dorongan ingin
tahu (tersedia dalam http://www.scribd.com).
Desslerr (dikutip Kuswadi) mengemukakan
bahwa: Motivate to represent
matter modestly because people is basically motivated or impelled for
berperilaku in way of certain felt instruct at deserts acquirement. Artinya
: Motivasi merupakan hal yang sederhana karena orang-orang pada dasarnya
termotivasi atau terdorong untuk berperilaku dalam cara tertentu yang
dirasakan mengarah pada perolehan ganjaran (tersedia dalam http://duniabaca.com).
Lebih
lanjut As’ad (tersedia dalam: http://duniabaca.com) mengemukakan bahwa: Motivate is oftentimes interpreted
with motivation term, the energy or motivation represent soul motion and
corporeal to do so that the the motif represent a driving
force moving human being to comport, and in its deed have a purpose
certain. Artinya:
Motivasi seringkali diartikan dengan istilah dorongan, dorongan atau tenaga
tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat sehingga motif tersebut
merupakan suatu driving force yang
menggerakkan manusia untuk bertingkah laku dan didalam perbuatannya itu
mempunyai tujuan tertentu.
Motivasi menjadi
suatu hal yang sangat penting tatkala kita akan melakukan sesuatu. Ada beberapa
definisi motivasi belajar selain yang disebutkan di atas, yaitu:
Motivasi merupakan keseluruhan
daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan, memberikan arah dan
memberi kekuatan, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
Definisi
motivasi belajar yang dikemukakan Davis (dikutip Andayani, 2006:25): “Motive or motivation refers to an internal
state resulting from a need which incites behaviour, usually directed towarked
fulfilling the need.” Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa motivasi
merupakan sesuatu yang berasal dari dalam diri seseorang yang muncul dalam
rangka memenuhi kebutuhannya.
Definisi
motivasi belajar yang dikemukakan Nasution (1993:08) menyatakan bahwa: Motivasi
adalah kondisi psikologis seseorang untuk melakukan sesuatu.
Definisi
motivasi belajar yang dikemukakan Sardiman (2007:75): Keseluruhan daya dan
penggerak psikis dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar,
menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar demi
mencapai tujuan.
Definisi motivasi belajar
yang dikemukakan Winkel (1983:27) menyatakan: Motivasi belajar merupakan faktor
psikis, yang bersifat nonintelektual yang berperan dalam hal gairah belajar.
Siswa yang bermotivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan
kegiatan (tersedia dalam http://ahli-definisi.blogspot.com).
Selanjutnya, Thomas M. Risk (dikutip Rohani, 2004:11)
memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: We may definen motivation, in a pedagogical sense, as the conscious
effort on the part of the teacher to establish in students motives leading to
sustained activity toward the learning goals (Motivasi adalah usaha yang
disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta
didik/pelajar yang menunjang kegiatan kea rah tujuan-tujuan belajar).
Selanjutnya, Nasution (dikutip Rohani, 2004:11) mengemukakan: “To motivate a child to arrange condition so
that the wants to do what he is capable doing” (Motivasi anak/peserta didik
adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa
yang dapat dilakukannya).
Motivasi tumbuh
dari dalam diri seseorang. Akan tetapi, motivasi dapat dirangsang dari luar.
Guru dapat melakukan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi
tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak
suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka
itu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan
belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat
tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang
bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah
merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual.
Hasil belajar akan
optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayut dengan ini maka kegagalan
belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja
guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat
dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar. Jagi tugas guru bagaimana mendorong
para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman, 2011:75—76).
2. Kebutuhan dan Teori tentang Motivasi
Memberikan
motivasi kepada seseorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin
melakukan sesuatu. Pada tahap
awalnya akan menyebabkan si subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin
melakukan sesuatu kegiatan belajar. Menurut Morgan yang dikutip Nasution
(dikutip Sardiman, 2011:78—81), manusia hidup dengan memiliki berbagai
kebutuhan.
- Kebutuhan
untuk berbuat sesuatu aktivitas.
Hal
ini sangat penting bagi anak, karena perbuatan sendiri itu mengandung suatu
kegembiraan baginya. Sesuai dengan konsep ini, bagi orang tua yang memaksa anak
untuk diam di rumah saja adalah bertentangan dengan hakikat anak. aktivities in it self is a pleasure. Hal
ini dapat dihubungkan dengan suatu kegiatan belajar bahwa pekerjaan atau
belajar itu akan berhasil kalau disertai dengan rasa gembira.
- Kebutuhan
untuk menyenangkan orang lain.
Banyak
orang yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu
demi kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil
tidaknya usaha memberikan kesenangan pada orang lain. Hal ini sudah barang
tentu merupakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan
kegiatan tersebut. Konsep ini dapat diterapkan pada berbagai kegiatan, misalnya
anak-anak itu rela bekerja atau para siswa itu rajin/rela belajar apabila
diberikan motivasi untuk melakukan sesuatu kegiatan belajar untuk orang yang
disukainya (misalnya bekerja, belajar demi orang tua, atau orang yang sudah
dewasa akan bekerja, belajar demi seseorang calon teman hidupnya).
- Kebutuhan
untuk mencapai hasil.
Suatu
pekerjaan atau kegiatan itu akan berhasil baik, kalau disertai dengan “pujian”.
Aspek “pujian” ini merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja dan belajar
dengan giat. Apabila hasil pekerjaan atau usaha belajar itu tidak dihiraukan
orang lain/guru atau orang tua misalnya, boleh jadi kegiatan anak menjadi
berkurang. Dalam kegiatan belajar-mengajar istilahnya perlu dikembangkan unsur reinforcement. Pujian atau reinforcement
ini harus selalu dikaitkan dengan prestasi yang baik. Anak-anak harus diberi
kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan sesuatu dengan hasil yang optimal,
sehingga ada “sense of sucses”. Dalam kegiatan belajar-mengajar, pekerjaan atau
kegiatan itu dimulai dari yang mudah/sederhana dan bertahap menuju sesuatu yang
semakin sulit/kompleks.
- Kebutuhan
untuk mengatasi kesulitan.
Suatu
kesulitan atau hambatan mungkin cacat, mungkin menimbulkan rasa rendah diri,
tetapi hal ini menjadi dorongan untuk mencari kompensasi dengan usaha yang
tekun dan luar biasa, sehingga tercapai kelebihan/keunggulan dalam bidang
tertentu. Sikap anak terhadap kesulitan atau hambatan ini sebelumnya banyak
bergantung pada keadaan dan sikap lingkungan. Sehubungan dengan ini maka
peranan motivasi sangat penting dalam upaya menciptakan kondisi-kondisi
tertentu yang lebih kondusif bagi mereka untuk berusaha agar memperoleh
keunggulan.
Kebutuhan
manusia seperti telah dijelaskan di atas senantiasa akan selalu berubah. Begitu
juga motif, motivasi yang selalu berkait dengan kebutuhan tentu akan
berubah-ubah atau bersifat dinamis, sesuai dengan keinginan dan perhatian
manusia. Relevan dengan soal kebutuhan itu maka timbullah teori tentang
motivasi.
Teori tentang motivasi ini lahir dan
awal perkembangannya ada di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa,
dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu
ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas. Dalam hal ini ada
beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergaya dengan soal kebutuhan, yaitu:
Kebutuhan
fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat, dan sebagainya;
Kebutuhan
akan keamanan (security), yakni rasa
aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan;
Kebutuhan
akan cinta dan kasih: kasih, rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan
(keluarga, sekolah, kelompok);
Kebutuhan
untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai
hasil dalam bidang pengetahuan, sosial, pembentukan pribadi.
3. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Motivasi mendorong
manusia untuk melakukan suatu kegiatan/pekerjaan. Begitu juga untuk belajar
sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation
is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal,
kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil
pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha
belajar bagi para siswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Seperti
disinggung di atas, bahwa walaupun di saat siang bolong si abang becak itu juga
menarik becaknya karena bertujuan untuk mendapatkan uang guna menghidupi anak
dan istrinya. Juga para pemain sepak bola rajin berlatih tanpa mengenal lelah,
karena mengharapkan akan mendapatkan kemenangan dalam pertandingan yang akan
dilakukannya. Dengan demikian, motivasi memengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan
dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi sebagai berikut.
- Mendorong
manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan
energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap
kegiatan yang akan dikerjakan.
- Menentukan
arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian,
motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai
dengan rumusan tujuannya.
- Menyeleksi
perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan
yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan
yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan
menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan
belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau
membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping itu,
ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha
dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya
motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang
baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari
adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi
yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya (Sardiman, 2011:84—86).
4. Macam-macam Motivasi
Menurut Sardiman
(2011:86—91) berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari
berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-motif yang aktif
itu sangat bervariasi.
Motivasi
dilihat dari dasar pembentukannya
Motif-motif
bawaan
Yang
dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejal lahir, jadi
motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya, dorongan untuk
bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali
disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka
Arden N. Fransen memberi istilah jenis motif Physiological drives.
Motif-motif
yang dipelajari
Maksudnya
motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk
belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam
masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang
diisyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan
sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen
mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan
berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri.
Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ‘ramah, kooperatif, membina
hubungan baik dengan sesama, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan
belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di
samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:
Cognitive motives
Motif
ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni
menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri
manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini
adalah sangat primer dalam kegiatan di sekolah, terutama yang berkaitan dengan
pengembangan intelektual.
Self-expression
Penampilan
diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu
tidak sekadar tahu mengapa dan bagaiamana sesuatu itu terjadi, tetapi juga
mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh
imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi
diri.
Self-enhancement
Melalui
aktulisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri
seseorang. Ketinggian bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan
suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
Jenis
motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
Motif
kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernapas,
seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis Physiological drives dari Frandsen
seperti telah disinggung di depan.
Motif-motif
darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk
menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu.
Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
Motif-motif
objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi,
melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena
dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
Motivasi
jasmaniah dan rohaniah
Ada
beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni
motivasi jasmaniah di motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmani seperti
misalnya: refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi
rahaniah adalah kemauan.
Soal
kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
Momen
timbulnya alasan
Sebagai
contoh seorang pemuda yang sedang giat berlatih olah raga untuk menghadapi
suatu porseni di sekolahnya, tetapi tiba-tiba disuruh ibunya untuk mengantarkan
seseorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda
itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini si pemuda tadi timbul
alasan baru untuk melakukan sesuatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru
itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak
mengecewakan ibunya.
Momen
pilih
Momen
pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang
mengakibatkan persaingan di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian
seseorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menentukan
pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
Momen
putusan
Dalam
persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu akan berakhir dengan
dipilihnya satu alternatif. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi
putusan untuk dikerjakan.
Momen
terbentuknya kemauan
Kalau
seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan
pada diri seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu.
Motivasi
intrinsik dan ekstrinsik
Motivasi
intrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan
untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak
usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku
untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang
dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi
intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan
belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret, seorang siswa itu melakukan
belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan
agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang
lain-lain. Intrinsic motivations are
inherent in the learning situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi
yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu
dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya.
Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin
mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu
diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan
menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi
tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah
belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin
menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan,
kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan
berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri
dengan tujuan secara esensial, bukan sekadar simbol dan seremonial.
Motivasi
ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya
perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok
paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji
oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin
mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar
mendapatkan hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang
dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang
dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan
sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan
diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan
dengan aktivitas belajar.
Menurut
Shaffat (2004:53) mengemukakan bahwa motivasi datang dari dua arah: dari dalam
(inside motivation) dan dari luar (outside motivation). Motivasi dari dalam
berupa harapan-harapan dan keinginan-keinginan (hopes and expectations) untuk melakukan sesuatu atau untuk menjadi
orang tertentu. Motivasi dari dalam muncul karena adanya dorongan psikis (internally driven) untuk melakukan
sesuatu karena adanya kepuasan yang disebabkan oleh perbuatan itu. Selanjutnya,
motivasi dari luar muncul karena adanya dorongan-dorongan yang diperoleh
seseorang dari orang lain baik berupa pergaulan, pendapat, maupun saran, atau
lingkungan sekitar (Shaffat, 2004:54).
Menurut
Bandura (dikutip, Hergenhahn, 2008:385) sebagaimana menurut teori Gestalt dan
Tolman, penguatan intrinsik lebih penting ketimbang penguatan ekstrinsik.
Menurut Bandura, penguatan ekstrinsik justru bisa mereduksi motivasi belajar
siswa. Pencapaian tujuan personal juga bisa menguatkan, dan karenanya guru
sebaiknya membantu siswa merumuskan
tujuan yang tidak terlalu sulit atau tak terlalu mudah untuk dicapai. Formulasi
ini, tentu saja, perlu dirumuskan secara individual untuk masing-masing
siswa. Menurut Roy Garn alam The Magic
Power of Emotical Appeal (1960:20), terdapat empat tujuan motivasi, mulai dari
yang paling tinggi sampai yang paling rendah sebagai berikut. (1) Pertahanan
diri, seseorang yang berada dalam keadaan terdesak dan tersudut akan berbuat
apa saja untuk melawan. Motif ini yang terkuat; (2) Pengakuan, ingin agar
dirinya mempunyai arti dan tidak kehilangan identitas serta kebanggaan diri;
(3) Cinta kasih, dengan cinta kasih kehidupan seseorang menjadi dinamis dan
penuh kegembiraan; dan (4) Uang, mendapatkan yang yang banyak. Tujuan ini yang
paling rendah tingkatannya (Shaffat, 2004:40).
Keller (Tersedia dalam: http://www.acrsmodel.com) mengemukakan bahwa faktor eksternal dan internal
sama-sama berperan di dalam membangkitkan motivasi belajar siswa. Dalam model
ARCS, motivasi dapat dikembangkan melalui unsur-unsur seperti akronim A (Attention
atau perhatian), R (Relevance atau
relevan), C (Confidence kepercayaan
diri), dan S (Satisfaction kepuasan).
Motivasi belajar siswa dapat dilihat secara langsung melalui proses kegiatan
pembelajaran yang merujuk pada implementasi ARCS model.
Apakah perhatian siswa kepada materi pembelajaran
terfokus atau tidak? Terpusatnya perhatian siswa kepada satu objek akan membawa
dampak pada tumbuhnya pemahaman yang mendalam terhadap materi pembelajaran yang
disampaikan.
Apakah materi pembelajaran berorientasi pada kebutuhan
siswa atau tidak? Kesesuaian antara materi pengajaran dengan tingkat kemampuan
siswa akan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pemerolehan pengetahuan,
memperbaiki sikap, dan perilaku.
Tumbuh dan berkembangnya keyakinan dan kepercayaan diri siswa. Belajar ternyata
dapat membawa dampak positif terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan
siswa, dan bahkan dapat menjadi obat yang mujarab bagi cemerlangnya kehidupan
di masa yang akan datang.
Menguatnya harapan positif terhadap pembelajaran.
Siswa memiliki keyakinan yang kuat terhadap pengetahuan dan keterampilan yang
mereka peroleh sehingga dengan kemampuan itu tidak saja mampu menjadikan siswa
mudah memperoleh pekerjaan tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Lebih
lanjut, Shaffat (2004:55—57) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi motivasi manusia dalam berbuat, yaitu: (1) tujuan yang jelas
akan membantu seseorang dalam belajar ataupun bekerja; (2) tantangan, manusia
dikarunia mekanisme pertahanan diri yang disebut “flight atau flight syndrome”;
(3) tanggung jawab (4) kesempatan untuk maju; dan (5) kepemimpinan baik dalam
pengertian kepemimpinan bagi diri sendiri maupun kepemimpinan untuk orang lain.
5. Prinsip-prinsip Motivasi
Berkaitan
dengan upaya guru memotivasi peserta didik sebenarnya tidak ada langkah-langkah
atau prosedur yang standar. Di bawah ini penulis mencoba menyajikan beberapa
prinsip dan prosedur yang perlu mendapat perhatian agar tercapai
perbaikan-perbaikan dalam motivasi.
- Peserta didik ingin bekerja keras. Ia
berminat terhadap sesuatu. Ini berarti bahwa hasil belajar akan lebih baik
jika peserta didik dibangkitkan minatnya antara lain dengan cara:
membangkitkan
kebutuhan pada diri peserta didik seperti kebutuhan psikis, jasmani, sosial,
dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil,
ketidakpuasan yang memerlukan pemuasan,
pengalaman-pengalaman
yang ingin ditanamkan pada peserta didik hendaklah didasari oleh
pengalmaan-pengalaman yang sudah dimiliki,
berilah
kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang baik atau yang diinginkan.
Tugas-tugas harus disesuaikan dengan tingkat kesanggupan peserta didik,
menggunakan
alat-alat peraga dan berbagai metode mengajar.
- Tetapkanlah tujuan-tujuan yang
terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas, jelas, dan wajar.
- Usahakanlah agar peserta didik selalu
mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya,
janganlah menganggap kenaikan kelas sebagai alat motivasi yang utama.
Pengetahuan mengenai kemajuan dan hasil belajar itu akan memperbesar
kegiatan belajar dan memperbesar minat.
- Hadiah biasanya menghasilkan
sebuah/sesuatu yang lebih baik daripada hukuman. Kendatipun demikian
adakalanya beberapa jenis hukuman dapat digunakan.
- Manfaatkan cita-cita, sikap-sikap,
dan rasa ingin tahu peserta didik. Pada umumnya masa praadolesen dan permulaan
adolesen memiliki cita-cita yang tinggi dan sering memberi respons dalam
bentuk kerja sama, permainan, kerajinan, dan sebagainya. Rasa ingin tahu
peserta didik merupakan motivator yang berharga. Jika guru mampu
membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik, dorongan itu akan
menghasilkan usaha-usaha yang menakjubkan.
Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
ReplyDeleteSistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
Memiliki 8 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
Link Alternatif :
arena-domino.net
arena-domino.org
100% Memuaskan ^-^
Memahami Klasifikasi Mesin engine
ReplyDeletePengendalian Kontaminasi