Wednesday, 7 October 2015

Kemampuan Menulis Argumentasi


1.  Hakikat Menulis Argumentasi


Tulisan argumentasi merupakan bentuk wacana tulis yang bertujuan mengubah pikiran, sikap, pandangan dan perasaan seseorang dengan memberikan pembuktian. Semi (2007:74) mengemukakan bahwa argumentasi adalah tulisan yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat penulis. Keraf (2007: 3) berpendapat argumentasi merupakan tulisan yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Penulis berusaha meyakinkan pembaca untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti atau fakta-fakta yang menguatkan argumen penulis. Tulisan ini dikembangkan dengan pola pemberian contoh-contoh, analogi, sebab-akibat, atau dengan pola deduktif dan induktif. Pemaparan tulisan berdasarkan cara bernalar atau berpikir yang logis sehingga pembaca dapat menerima kebenaran yang disampaikan oleh penulis secara objektif. 

Sejalan dengan itu, Kuncoro (2009:78) mengemukakan bahwa argumentasi adalah sebuah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran sebuah pernyataan. Tulisan argumen secara tradisional terbagi atas dua bagian, yaitu induktif dan deduktif. Dalam berargumen, penulis dapat memilih salah satu atau kedua kategori tersebut secara bergantian. Dalam tulisan bersifat argumentasi, penulis menggunakan berbagai strategi dan retorika-retorika sebagai alat untuk meyakinkan pembaca tentang sesuatu kebenaran atau ketidakbenaran tersebut. Tulisan argumentasi ini merupakan mungkin jenis tulisan yang paling sulit dilakukan karena melibatkan semua jenis tulisan lainnya. Inilah sebuah tulisan yang menghasilkan sebuah perbedaan atau membuat sesuatu selesai.

Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk memengaruhi sikap dan pandangan orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 2007: 3). Melalui argumentasi penulis berusaha merangkai fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menyampaikan apakah suatu pendapat atau suatu hal itu benar atau tidak. Sejalan dengan itu, Alwasilah dan Alwasilah (2007:116) mengemukakan bahwa argumentasi adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah pernyataan (statement). Selanjutnya, Halim, dkk., (1974:35) menambahkan bahwa keterampilan menulis argumentasi adalah keterampilan mengorganisasikan dan mengekspresikan unsur-unsur sebagai berikut: (1) isi karangan, (2) bentuk karangan, (3) tata bahasa, (4) gaya atau pilihan struktur dan kosakata, dan (5) penerapan ejaan dan penggunaan tanda baca. Djuharie dan Suherli (2005:51) mengemukakan bahwa wacana argumentasi adalah karangan yang mengutarakan gagasan, pendapat ide dengan menyertakan alasan-alasan untuk meyakinkan orang lain terhadap gagasan, ide pendapat yang diungkapkan itu. Wacana argumentasi bertujuan memahamkan terhadap adanya suatu pendapat dan membuat orang lain menerima pendapat, ide, gagasan yang diungkapkan oleh seseorang.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis argumentasi bertujuan untuk meyakinkan dan memengaruhi pembaca dengan memberikan bukti-bukti kebenaran atau ketidakbenaran suatu pendapat, sehingga pembaca dapat mengubah sikapnya. Tulisan argumentasi merupakan tulisan yang menekankan kepada proses penalaran, baik yang dilakukan dengan metode deduktif ataupun induktif. Cara deduktif, penulis mengemukakan terlebih dahulu kesimpulan kemudian diiringi dengan uraian dan penjelasan. Selanjutnya, cara induktif mengemukakan terlebih dahulu uraian, penjelasan, dan contoh-contoh, kemudian mengemukakan kesimpulan.



2.  Dasar Penulisan Argumentasi


Argumentasi yang baik biasanya menggunakan kaidah-kaidah logika yang benar (Keraf, 2007: 101-102). Silogisme sering digunakan dalam mengungkapkan atau membentuk suatu karangan argumentasi argumentasi. Demikian juga kesesuaian isi dengan realitas kehidupan sehari-hari merupakan suatu landasan yang berguna dalam menyusun karangan argumentasi argumentasi. Dasar yang harus diperhatikan sebagai titik tolak argumentasi adalah:

  1. Pembicaraan atau pengarang harus mengetahui sedikit tentang subyek yang akan dikemukakannya, sekurang-kurangnya mengetahui prinsip-prinsip ilmiahnya. Karena argumentasi pertama-tama didasarkan pada fakta, informasi, evidensi, dan jalan pikiran yang menghubungkan fakta-fakta dan informasi tersebut.
  2. Pengarang harus bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Mempertimbangkan pendapat lawan adalah dengan tujuan untuk mengetahui apakah diantara fakta-fakta yang diajukan lawan ada yang dapat dipergunakannya, sehingga akan memperlemah pendapat lawan tadi. dan dapat juga terjadi bahwa fakta dan evidensi lawanlah yang benar, sehingga pendapat lawanlah yang harus diterima.
  3. Pembicara atau penulis argumentasi harus berusaha untuk mengemukakan pokok persoalannya yang jelas. Ia juga harus mengemukakan pola konsep-konsep dan istilah yang tepat.
  4. Pembicara atau penulis harus menyelidiki persyaratan mana yang masih diperlukan bagi tujuan-tujuan lain yang tercakup dalam persoalan yang dibahas itu, dan sampai dimana kebenaran dari pernyataan yang telah dirumuskannya.
  5. Dari semua maksud dan tujuan yang terkandung dalam persoalan itu, maksud yang mana lebih memuaskan pembicara atau penulis untuk menyampaikan masalahnya.
    Lebih lanjut, Alwasilah dan Alwasilah (2007:116) mengemukakan bahwa argumen mengandalkan berbagai jenis appeal, yakni banding atau pertimbangan (seperti naik banding dalam kasus pengadilan). Berikut adalah jenis-jenis appeal yang lazim dipakai para penulis.

  1. Appeal to the writer’s own credibility (authority)
    Pertimbangan kredibilitas atau otoritas kepakaran sang penulis dengan menunjukkan dirinya menguasai (tahu banyak) ihwal suatu persoalan dengan tetap menghargai pandangan pembaca.
  2. Appeals to empirical data
    Pertimbangan data empiris dengna menyajikan data primer atau sekunder untuk memperkuat argumen.
  3. Appeals to reason (logical appeals)
    Pertimbangan nalar atau logika, yakni bernalar dengan tepat ketika mengajukan pendapat disertai bukti-bukti yang meyakinkan.
  4. Appeals to the reader’s emotions, values, or attitudes (pathetic or affective appeals)
    Yaitu pertimbangan nilai-nilai, emosi, dan sikap dengan memilih contoh-contoh dan memunculkan isu-isu yang diharapkan dapat meluluhkan perasaan pembaca dengan menggunakan bahasa yang kaya makna konotatifnya.
    Keempat jenis pertimbangan ini harus digunakan secara proporsional. Jika Anda terlalu mengandalkan pertimbangan otoritas atau kredibilitas diri, ada kesan Anda tak peduli dengan emosi pembaca atau Anda seolah melupakan bahwa pembaca juga mampu bernalar. Terlampau mengandalkan pertimbangan logika, membuat tulisan Anda berdarah dingin, kaku, kejam, dan tak bernurani. Sebaliknya, terlampau mengandalkan pertimbangan nurani pembaca membangun kesan bahwa diri Anda lembek, tak berpendirian, dan mudah terbawa angin.
    Sejalan dengan pendapat di atas, Kuncoro (2009:78—81) mengemukakan bahwa argument dalam tulisan mengandalkan berbagai jenis pertimbangan yang bertujuan untuk menguatkan argumentasi tersebut. Pertimbangan pertama adalah kredibilitas penulis yang menunjukkan bahwa sang penulis sangat piawai di bidang yang ia tulis dan banyak tahu tentang suatu situasi sehingga ia sangat menguasai argumentasi-argumentasinya. Kedua, pertimbangan asa nalar dan logika dengan memberikan pendapat disertai bukti-bukti yang ada sehingga meyakinkan pembaca. Ketiga, pertimbangan emosi, nilai, atau etika yang diharapkan dapat menggugah jiwa dan meluluhkan perasaan pembacanya.

    3.  Mengemukakan Argumen


Sebagai bentuk tulisan yang paling umum digarap, argumentasi selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, tubuh argumentasi, dan kesimpulan (Keraf, 2007: 104).

  1. Pendahuluan
    Pendahuluan berfungsi menarik perhatian pembaca dengan menyajikan fakta-fakta pendahuluan memusatkan perhatian dan memahami argumentasi yang akan disampaikan pada bagian isi karangan. Dibagian pendahuluan ini dijelaskan latar belakang permasalahan. Secara ideal pendahuluan mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian pembaca yang tidak ahli sekalipun, serta memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta yang diperlukan untuk memahami argumentasinya. Kebanyakan penulis pemula menganggap pembaca sudah mengetahui sebagian besar permasalahan yang dibicarakan. sikap ini kurang menguntungkan dan hanya akan menggagalkan argumentasinya.
  2. Tubuh Argumentasi
    Seluruh isi argumentasi diarahkan kepada usaha penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran dari permasalahan yang dikemukakan sehingga kesimpulanya juga benar. Hal terpenting pada bagian tubuh argumentasi adalah mengajukan pembuktian mengenai benar tidaknya data dan informasi yang diperoleh berkaitan dengan permasalahan yang dikemukakan. Kebenaran faktual ini harus didukung proses penalaran yang sahih dan logis sehingga pendapat atau kesimpulan yang diturunkan tidak dapat dibantah oleh siapapun. Kebenaran dalam penalaran dan konklusi itu mencakup beberapa kemahiran: kecermatan menyeleksi fakta yang benar, kekritisan dalam memberikan penilaian, penyajian atau penyusunan bahan secara baik dan teratur. Penyajian fakta, kesaksian, perumusan premis-premis, dan sebagainya dengan benar.
  3. Kesimpulan
    Penulis harus memerhatikan bahwa kesimpulan yang diturunkan tetap menjaga pencapaian tujuan, yaitu membuktikan kebenaran untuk mengubah sikap dan pendapat pembaca. Kesimpulan dapat berupa dalil yang telah teruji kebenarannya dalam isi argumentasi, atau berupa rangkuman umum dari materi yang telah dikemukakan. Sementara itu, keberhasilan tulisan argumentasi terletak pada penulis dalam membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian.

Djuharie dan Suherli (2005:51) mengemukakan bahwa pendapat yang diungkapkan di dalam argumentasi kadang-kadang dapat merubah perilaku seseorang. Dengan alasan yang kuat argumentasi dapat menuntun pendapat seseorang dan perilaku seseorang pada pendapat dan sikap yang diungkapkan dalam argumentasi. Fakta di dalam argumentasi harus betul-betul kuat, sehingga dapat mempengaruhi pembaca atau penyimak, alasan yang dikemukakan harus kuat.

Alwasilah dan Alwasilah (2007:117) mengemukakan beberapa komponen sebuah argumen, sebagai berikut.

  1. Introduction atau lazim disebut exordium (exhortation) to the audience
    Pendahuluan untuk menarik minat atau perhatian pembaca, dan memperkenalkan subjek permasalahan.
  2. Thesis
    Tesis adalah pernyataan ihwal posisi (sikap) terhadap sebuah isu. Pembaca digiring oleh penulis untuk menyetujui tesis atau proposisi (pro-posisi, yakni memihak sebuah posisi).
  3. Evidence atau proofs
    Bukti-bukti yang disajikan untuk mendukung sebuah tesis.
  4. Opposing arguments
    Terkadang argumen tandingan perlu disajikan sebelum penulis menyampaikan argumennya sendiri.
  5. Conclusion
    Kesimpulan maksudnya tiada lain kecuali mengukuhkan tesis yang disebut sebelumnya.
    Kejituan sebuah argumen tergantung pada pertimbangan Anda ihwal pembaca. Bila bukti yang disajikan, pembaca akan berkesimpulan bahwa argumen Anda lemah. Bila bukti-bukti yang diajukan tidak sejalan dengan minat pembaca, pembaca akan mengira argumen Anda tidak relevan. Bila argumen Anda salah, argumen Anda akan dinilai keliru. Bila nada argumen tidak tepa, Anda akan dicap tidak sensitive. Dengan demikian, Anda harus berpihak pada psikologi pembaca.
    Saran yang harus ditetapkan oleh setiap pengarang argumentasi untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian menurut Amiruddin Aliah (2009: 1) adalah sebagai berikut.

  1. Tulisan argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan. Untuk menunjukkan kebenaran tersebut, seorang penulis harus menyusun fakta-fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat diterima sehingga lawan tidak bisa mengajukan kesimpulan yang bertentangan dengan kesimpulannya itu.
  2. Pengarang harus berusaha menghindari istilah yang dapat menimbulkan prasangka tertentu. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa istilah harus mewakili satu makna secara jelas dan tegas, terhindar dari perbedaan penafsiran antara proposisi yang dikemukakannya dengan harus terhindar dari makna yang diragukan.
  3. Penulis harus membatasi pengertian istilah-istilah yang akan digunakan agar dapat meminimalkan kemungkinan timbulnya ketidaksesuaian pendapat karena perbedaan pengertian. Pembatasan definisi atau pengertian sebuah istilah hanya sekedar merupakan proses pembentukan makna untuk meletakkan dasar-dasar persamaan pengertian bagi istilah yang akan digunakan. Pembatasan itu sangat penting supaya tujuan utama jangan diabaikan atau terganggu hanya karena timbul ketidaksepakatan baru mengenai istilah itu.
  4. Penulis harus menetapkan secara tepat ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting sebab seperti analisis yang dipaparkan harus tampak jelas di mana letak perbedaan-perbedaan persoalan yang akan di argumentasikan itu. Dengan demikian, arah dan sasaran tulisan hanya dipusatkan kepada titik perbedaan itu.

 

4.  Langkah-langkah Menulis Argumentasi


Menulis argumentasi merupakan suatu proses kreatif. Sebagai suatu proses, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan secara konsisten, sehingga penulisan argumentasi dapat berjalan dengan baik. Semi (1990:11) mengemukakan bahwa menulis argumentasi dapat dilaksanakan dengan menempuh tujuh langkah, yaitu: (1) pemilihan dan penetapan topik, (2) pengumpulan informasi, (3) penetapan tujuan, (4) perancangan tulisan, (5) penulisan, (6) penyuntingan (revisi), dan (7) penulisan naskah jadi (Semi, 1990:11).

Lebih lanjut, Gunawan dkk., (1997:56—59) mengemukakan bahwa langkah-langkah menulis argumentasi adalah sebagai berikut: (1) menetapkan tema, (2) menetapkan tujuan tulisan, (3) mengumpulkan bahan tulisan, (4) menyiapkan kerangka teori, dan (5) mengembangkan tulisan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah menulis argumentasi meliputi: (1) pemilihan dan penetapan topik, (2) penetapan tujuan, (3) pengumpulan bahan, (4) menyusun kerangka karangan, (5) menulis karangan argumentasi, (6) melakukan revisi, dan (7) menulis kembali.



5.  Mengukur Kemampuan Menulis Argumentasi

Untuk mengukur keterampilan menulis argumentasi, ada dua pendekatan yang dilakukan, yaitu pengukuran secara langsung, seseorang diminta membuat tulisan yang sebenarnya, misalnya berupa cerita atau artikel. Kemudian penilai membaca tulisan-tulisan itu dan memberikan nilai berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Pada pengukuran tidak langsung, penilaian karangan didasari oleh keterampilan menulis seseorang. Dalam pengukuran ini, seseorang diminta memberikan pendapatnya tentang tulisan orang lain, bentuk tes yang diberikan biasanya berupa tes objektif yang berbentuk pilihan ganda. Materi yang diberikan menyangkut gramatika, pemilihan kata, atau penggunaan ejaan dan tanda baca (Spendel dan Richard, 1990:67 dan Latief, 1990:53).

          Untuk menilai keterampilan menulis argumentasi siswa, pada penelitian ini, penulis menggunakan model atau kriteria yang dikembangkan oleh Nurgiyantoro (2001:307—308). Deskripsi skala penilaian karangan argumentasi adalah sebagai berikut.

Tabel 1

Deskripsi Skala Penilaian Menulis Argumentasi

No.
Nilai
Komponen yang dinilai
1.

Syarat penulisan karangan argumentasi


A.    Kesatuan
5
Memiliki satu kalimat topik
4
Memiliki dua kalimat topik
3
Memiliki tiga kalimat topik
2
Memiliki empat kalimat topik
1
Memiliki lebih dari empat kalimat topik/tidak memiliki kalimat topik sama sekali

B.     Kepaduan
5
Memperlihatkan hubungan antarkalimat yang sangat erat
4
Memperlihatkan hubungan antarkalimat yang erat
3
Memperlihatkan hubungan antar kalimat yang cukup erat
2
Memperlihatkan hubungan antarkalimat yang kurang erat
1
Tidak memperlihatkan hubungan antarkalimat.

C.      Kelengkapan
5
Memiliki kalimat penjelas yang sangat menunjang kalimat utama;
4
Memiliki kalimat penjelas yang menunjang kalimat utama;
3
Memiliki kalimat penjelas yang cukup menunjang kalimat utama;
2
Memiliki kalimat penjelas yang kurang menunjang kalimat utama;
1
Memiliki kalimat penjelas yang tidak menunjang kalimat utama.

D.    Urutan
5
Seluruh  kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan ide secara logis;
4
Sebagian besar dari kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan ide secara logis;
3
Setengah dari keseluruhan kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan ide secara logis;
2
Sebagian kecil dari keseluruhan kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan ide secara logis;
1
Seluruh kalimat yang membangun karangan argumentasi tidak memiliki urutan ide secara logis.
2.

Isi karangan argumentasi


       A. Pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan
5
Pernyataan, ide, dan pendapat yang dikemukakan mampu menarik perhatian, meyakinkan dan mempengaruhi pembaca dengan sangat baik;
4
Pernyataan, ide, dan pendapat yang dikemukakan mampu menarik perhatian, meyakinkan dan mempengaruhi pembaca dengan baik;
3
Pernyataan, ide, dan pendapat yang dikemukakan cukup menarik perhatian, meyakinkan, dan mempengaruhi pembaca;
2
Pernyataan, ide, dan pendapat yang dikemukakan kurang menarik perhatian, meyakinkan, dan mempengaruhi pembaca;
1
Pernyataan, ide, dan pendapat yang dikemukakan tidak menarik perhatian, meyakinkan, dan mempengaruhi pembaca.

B.     Alasan, data atau fakta yang mendukung
5
Alasan, data, dan fakta sangat mendukung bukti kebenaran yang disampaikan;
4
Alasan, data, dan fakta membuktikan kebenaran yang disampaikan;
3
Alasan, data, dan fakta cukup membuktikan kebenaran yang disampaikan;
2
Alasan, data, dan fakta kurang membuktikan kebenaran yang disampaikan; dan
1
Alasan, data, dan fakta tidak mebuktikan kebenaran yang disampaikan.

C.     Pembenaran data dan fakta yang disampaikan
5
Sangat membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis;
4
Membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis;
3
Cukup membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis;
2
Kurang membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis; dan
1
Tidak membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis.
3.

Teknik


A.    Kalimat Efektif
5
Keseluruhan karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, dan logis;
4
Sebagian besar karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, dan logis;
3
Setengah dari keseluruhan karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang tepat, dan logis;
2
Sebagian kecil karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, dan logis;
1
Keseluruhan karangan argumentasi tidak memiliki kalimat dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, dan logis.

B.     Ejaan: tanda baca, pemakaian huruf, dan penulisan kata
5
Tidak ada kesalahan ejaan
4
Kesalahan ejaan antara 1—3
3
Kesalahan ejaan antara 4—7
2
Kesalahan ejaan lebih dari 7
1
Semua penggunaan ejaan salah

(http://repository.upi.edu).

1 comment: