1. Hakikat
Menulis Argumentasi
Tulisan argumentasi merupakan bentuk wacana
tulis yang bertujuan mengubah pikiran, sikap, pandangan dan perasaan seseorang
dengan memberikan pembuktian. Semi (2007:74) mengemukakan bahwa argumentasi
adalah tulisan yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang
kebenaran pendapat penulis. Keraf (2007: 3) berpendapat argumentasi merupakan
tulisan yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Penulis berusaha meyakinkan
pembaca untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti atau
fakta-fakta yang menguatkan argumen penulis. Tulisan ini dikembangkan dengan
pola pemberian contoh-contoh, analogi, sebab-akibat, atau dengan pola deduktif
dan induktif. Pemaparan tulisan berdasarkan cara bernalar atau berpikir yang
logis sehingga pembaca dapat menerima kebenaran yang disampaikan oleh penulis
secara objektif.
Sejalan dengan itu, Kuncoro (2009:78)
mengemukakan bahwa argumentasi adalah sebuah karangan yang membuktikan
kebenaran atau ketidakbenaran sebuah pernyataan. Tulisan argumen secara
tradisional terbagi atas dua bagian, yaitu induktif dan deduktif. Dalam
berargumen, penulis dapat memilih salah satu atau kedua kategori tersebut
secara bergantian. Dalam tulisan bersifat argumentasi, penulis menggunakan
berbagai strategi dan retorika-retorika sebagai alat untuk meyakinkan pembaca
tentang sesuatu kebenaran atau ketidakbenaran tersebut. Tulisan argumentasi ini
merupakan mungkin jenis tulisan yang paling sulit dilakukan karena melibatkan
semua jenis tulisan lainnya. Inilah sebuah tulisan yang menghasilkan sebuah
perbedaan atau membuat sesuatu selesai.
Argumentasi adalah suatu bentuk
retorika yang berusaha untuk memengaruhi sikap dan pandangan orang lain, agar
mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan
oleh penulis atau pembicara (Keraf, 2007: 3). Melalui argumentasi penulis
berusaha merangkai fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menyampaikan
apakah suatu pendapat atau suatu hal itu benar atau tidak. Sejalan dengan itu,
Alwasilah dan Alwasilah (2007:116) mengemukakan bahwa argumentasi adalah
karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah pernyataan
(statement). Selanjutnya, Halim,
dkk., (1974:35) menambahkan bahwa keterampilan menulis argumentasi adalah
keterampilan mengorganisasikan dan mengekspresikan unsur-unsur sebagai berikut:
(1) isi karangan, (2) bentuk karangan, (3) tata bahasa, (4) gaya atau pilihan
struktur dan kosakata, dan (5) penerapan ejaan dan penggunaan tanda baca. Djuharie dan Suherli (2005:51) mengemukakan bahwa
wacana argumentasi adalah karangan yang mengutarakan gagasan, pendapat ide
dengan menyertakan alasan-alasan untuk meyakinkan orang lain terhadap gagasan,
ide pendapat yang diungkapkan itu. Wacana argumentasi bertujuan memahamkan
terhadap adanya suatu pendapat dan membuat orang lain menerima pendapat, ide,
gagasan yang diungkapkan oleh seseorang.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa menulis argumentasi bertujuan untuk meyakinkan dan
memengaruhi pembaca dengan memberikan bukti-bukti kebenaran atau ketidakbenaran
suatu pendapat, sehingga pembaca dapat mengubah sikapnya. Tulisan argumentasi
merupakan tulisan yang menekankan kepada proses penalaran, baik yang dilakukan
dengan metode deduktif ataupun induktif. Cara deduktif, penulis mengemukakan
terlebih dahulu kesimpulan kemudian diiringi dengan uraian dan penjelasan.
Selanjutnya, cara induktif mengemukakan terlebih dahulu uraian, penjelasan, dan
contoh-contoh, kemudian mengemukakan kesimpulan.
2. Dasar
Penulisan Argumentasi
Argumentasi yang baik biasanya menggunakan
kaidah-kaidah logika yang benar (Keraf, 2007: 101-102). Silogisme sering
digunakan dalam mengungkapkan atau membentuk suatu karangan argumentasi
argumentasi. Demikian juga kesesuaian isi dengan realitas kehidupan sehari-hari
merupakan suatu landasan yang berguna dalam menyusun karangan argumentasi
argumentasi. Dasar yang harus diperhatikan sebagai titik tolak argumentasi
adalah:
Pembicaraan
atau pengarang harus mengetahui sedikit tentang subyek yang akan
dikemukakannya, sekurang-kurangnya mengetahui prinsip-prinsip ilmiahnya. Karena
argumentasi pertama-tama didasarkan pada fakta, informasi, evidensi, dan jalan
pikiran yang menghubungkan fakta-fakta dan informasi tersebut.
Pengarang
harus bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang
bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Mempertimbangkan pendapat lawan adalah
dengan tujuan untuk mengetahui apakah diantara fakta-fakta yang diajukan lawan
ada yang dapat dipergunakannya, sehingga akan memperlemah pendapat lawan tadi.
dan dapat juga terjadi bahwa fakta dan evidensi lawanlah yang benar, sehingga
pendapat lawanlah yang harus diterima.
Pembicara
atau penulis argumentasi harus berusaha untuk mengemukakan pokok persoalannya
yang jelas. Ia juga harus mengemukakan pola konsep-konsep dan istilah yang
tepat.
Pembicara
atau penulis harus menyelidiki persyaratan mana yang masih diperlukan bagi
tujuan-tujuan lain yang tercakup dalam persoalan yang dibahas itu, dan sampai
dimana kebenaran dari pernyataan yang telah dirumuskannya.
Dari
semua maksud dan tujuan yang terkandung dalam persoalan itu, maksud yang mana
lebih memuaskan pembicara atau penulis untuk menyampaikan masalahnya.
Lebih lanjut,
Alwasilah dan Alwasilah (2007:116) mengemukakan bahwa argumen mengandalkan
berbagai jenis appeal, yakni banding
atau pertimbangan (seperti naik banding dalam kasus pengadilan). Berikut adalah
jenis-jenis appeal yang lazim dipakai
para penulis.
Appeal to the writer’s
own credibility (authority)
Pertimbangan kredibilitas atau
otoritas kepakaran sang penulis dengan menunjukkan dirinya menguasai (tahu
banyak) ihwal suatu persoalan dengan tetap menghargai pandangan pembaca.
Appeals to empirical data
Pertimbangan data empiris dengna
menyajikan data primer atau sekunder untuk memperkuat argumen.
Appeals to reason
(logical appeals)
Pertimbangan nalar atau logika, yakni
bernalar dengan tepat ketika mengajukan pendapat disertai bukti-bukti yang
meyakinkan.
Appeals to the reader’s
emotions, values, or attitudes (pathetic or affective appeals)
Yaitu pertimbangan nilai-nilai,
emosi, dan sikap dengan memilih contoh-contoh dan memunculkan isu-isu yang
diharapkan dapat meluluhkan perasaan pembaca dengan menggunakan bahasa yang
kaya makna konotatifnya.
Keempat jenis
pertimbangan ini harus digunakan secara proporsional. Jika Anda terlalu
mengandalkan pertimbangan otoritas atau kredibilitas diri, ada kesan Anda tak
peduli dengan emosi pembaca atau Anda seolah melupakan bahwa pembaca juga mampu
bernalar. Terlampau mengandalkan pertimbangan logika, membuat tulisan Anda
berdarah dingin, kaku, kejam, dan tak bernurani. Sebaliknya, terlampau
mengandalkan pertimbangan nurani pembaca membangun kesan bahwa diri Anda
lembek, tak berpendirian, dan mudah terbawa angin.
Sejalan dengan
pendapat di atas, Kuncoro (2009:78—81) mengemukakan bahwa argument dalam
tulisan mengandalkan berbagai jenis pertimbangan yang bertujuan untuk
menguatkan argumentasi tersebut. Pertimbangan pertama adalah kredibilitas
penulis yang menunjukkan bahwa sang penulis sangat piawai di bidang yang ia
tulis dan banyak tahu tentang suatu situasi sehingga ia sangat menguasai
argumentasi-argumentasinya. Kedua, pertimbangan asa nalar dan logika dengan
memberikan pendapat disertai bukti-bukti yang ada sehingga meyakinkan pembaca.
Ketiga, pertimbangan emosi, nilai, atau etika yang diharapkan dapat menggugah
jiwa dan meluluhkan perasaan pembacanya.
3. Mengemukakan Argumen
Sebagai bentuk tulisan yang paling umum
digarap, argumentasi selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan,
tubuh argumentasi, dan kesimpulan (Keraf, 2007: 104).
Pendahuluan
Pendahuluan berfungsi menarik
perhatian pembaca dengan menyajikan fakta-fakta pendahuluan memusatkan
perhatian dan memahami argumentasi yang akan disampaikan pada bagian isi
karangan. Dibagian pendahuluan ini dijelaskan latar belakang permasalahan.
Secara ideal pendahuluan mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian
pembaca yang tidak ahli sekalipun, serta memperkenalkan kepada pembaca
fakta-fakta yang diperlukan untuk memahami argumentasinya. Kebanyakan penulis
pemula menganggap pembaca sudah mengetahui sebagian besar permasalahan yang
dibicarakan. sikap ini kurang menguntungkan dan hanya akan menggagalkan
argumentasinya.
Tubuh
Argumentasi
Seluruh isi argumentasi diarahkan
kepada usaha penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran dari
permasalahan yang dikemukakan sehingga kesimpulanya juga benar. Hal terpenting
pada bagian tubuh argumentasi adalah mengajukan pembuktian mengenai benar
tidaknya data dan informasi yang diperoleh berkaitan dengan permasalahan yang
dikemukakan. Kebenaran faktual ini harus didukung proses penalaran yang sahih
dan logis sehingga pendapat atau kesimpulan yang diturunkan tidak dapat
dibantah oleh siapapun. Kebenaran dalam penalaran dan konklusi itu mencakup
beberapa kemahiran: kecermatan menyeleksi fakta yang benar, kekritisan dalam
memberikan penilaian, penyajian atau penyusunan bahan secara baik dan teratur.
Penyajian fakta, kesaksian, perumusan premis-premis, dan sebagainya dengan
benar.
Kesimpulan
Penulis harus memerhatikan bahwa
kesimpulan yang diturunkan tetap menjaga pencapaian tujuan, yaitu membuktikan
kebenaran untuk mengubah sikap dan pendapat pembaca. Kesimpulan dapat berupa
dalil yang telah teruji kebenarannya dalam isi argumentasi, atau berupa
rangkuman umum dari materi yang telah dikemukakan. Sementara itu, keberhasilan
tulisan argumentasi terletak pada penulis dalam membatasi persoalan dan
menetapkan titik ketidaksesuaian.
Djuharie dan Suherli (2005:51)
mengemukakan bahwa pendapat yang diungkapkan di dalam argumentasi kadang-kadang
dapat merubah perilaku seseorang. Dengan alasan yang kuat argumentasi dapat
menuntun pendapat seseorang dan perilaku seseorang pada pendapat dan sikap yang
diungkapkan dalam argumentasi. Fakta di dalam argumentasi harus betul-betul
kuat, sehingga dapat mempengaruhi pembaca atau penyimak, alasan yang
dikemukakan harus kuat.
Alwasilah dan Alwasilah (2007:117)
mengemukakan beberapa komponen sebuah argumen, sebagai berikut.
Introduction
atau lazim disebut
exordium (exhortation) to the audience
Pendahuluan untuk
menarik minat atau perhatian pembaca, dan memperkenalkan subjek permasalahan.
Thesis
Tesis adalah
pernyataan ihwal posisi (sikap) terhadap sebuah isu. Pembaca digiring oleh
penulis untuk menyetujui tesis atau proposisi (pro-posisi, yakni memihak sebuah
posisi).
Evidence
atau proofs
Bukti-bukti yang
disajikan untuk mendukung sebuah tesis.
Opposing
arguments
Terkadang argumen
tandingan perlu disajikan sebelum penulis menyampaikan argumennya sendiri.
Conclusion
Kesimpulan
maksudnya tiada lain kecuali mengukuhkan tesis yang disebut sebelumnya.
Kejituan sebuah argumen tergantung pada
pertimbangan Anda ihwal pembaca. Bila bukti yang disajikan, pembaca akan
berkesimpulan bahwa argumen Anda lemah. Bila bukti-bukti yang diajukan tidak
sejalan dengan minat pembaca, pembaca akan mengira argumen Anda tidak relevan.
Bila argumen Anda salah, argumen Anda akan dinilai keliru. Bila nada argumen
tidak tepa, Anda akan dicap tidak sensitive. Dengan demikian, Anda harus
berpihak pada psikologi pembaca.
Saran yang harus ditetapkan oleh setiap pengarang
argumentasi untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian
menurut Amiruddin Aliah (2009: 1) adalah sebagai berikut.
Tulisan
argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan
orang mengenai topik yang akan diargumentasikan. Untuk menunjukkan kebenaran
tersebut, seorang penulis harus menyusun fakta-fakta menuju suatu kesimpulan
yang dapat diterima sehingga lawan tidak bisa mengajukan kesimpulan yang
bertentangan dengan kesimpulannya itu.
Pengarang
harus berusaha menghindari istilah yang dapat menimbulkan prasangka tertentu.
Secara singkat, dapat dikatakan bahwa istilah harus mewakili satu makna secara
jelas dan tegas, terhindar dari perbedaan penafsiran antara proposisi yang
dikemukakannya dengan harus terhindar dari makna yang diragukan.
Penulis
harus membatasi pengertian istilah-istilah yang akan digunakan agar dapat
meminimalkan kemungkinan timbulnya ketidaksesuaian pendapat karena perbedaan
pengertian. Pembatasan definisi atau pengertian sebuah istilah hanya sekedar
merupakan proses pembentukan makna untuk meletakkan dasar-dasar persamaan
pengertian bagi istilah yang akan digunakan. Pembatasan itu sangat penting
supaya tujuan utama jangan diabaikan atau terganggu hanya karena timbul
ketidaksepakatan baru mengenai istilah itu.
Penulis
harus menetapkan secara tepat ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan.
Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting sebab seperti analisis yang
dipaparkan harus tampak jelas di mana letak perbedaan-perbedaan persoalan yang
akan di argumentasikan itu. Dengan demikian, arah dan sasaran tulisan hanya
dipusatkan kepada titik perbedaan itu.
4. Langkah-langkah Menulis Argumentasi
Menulis
argumentasi merupakan suatu proses kreatif. Sebagai suatu proses, ada beberapa
langkah yang perlu dilakukan secara konsisten, sehingga penulisan argumentasi
dapat berjalan dengan baik. Semi (1990:11) mengemukakan bahwa menulis
argumentasi dapat dilaksanakan dengan menempuh tujuh langkah, yaitu: (1)
pemilihan dan penetapan topik, (2) pengumpulan informasi, (3) penetapan tujuan,
(4) perancangan tulisan, (5) penulisan, (6) penyuntingan (revisi), dan (7)
penulisan naskah jadi (Semi, 1990:11).
Lebih lanjut,
Gunawan dkk., (1997:56—59) mengemukakan bahwa langkah-langkah menulis
argumentasi adalah sebagai berikut: (1) menetapkan tema, (2) menetapkan tujuan
tulisan, (3) mengumpulkan bahan tulisan, (4) menyiapkan kerangka teori, dan (5)
mengembangkan tulisan.
Berdasarkan uraian
di atas, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah menulis argumentasi meliputi:
(1) pemilihan dan penetapan topik, (2) penetapan tujuan, (3) pengumpulan bahan,
(4) menyusun kerangka karangan, (5) menulis karangan argumentasi, (6) melakukan
revisi, dan (7) menulis kembali.
5. Mengukur Kemampuan Menulis Argumentasi
Untuk mengukur
keterampilan menulis argumentasi, ada dua pendekatan yang dilakukan, yaitu
pengukuran secara langsung, seseorang diminta membuat tulisan yang sebenarnya,
misalnya berupa cerita atau artikel. Kemudian penilai membaca tulisan-tulisan
itu dan memberikan nilai berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Pada
pengukuran tidak langsung, penilaian karangan didasari oleh keterampilan
menulis seseorang. Dalam pengukuran ini, seseorang diminta memberikan
pendapatnya tentang tulisan orang lain, bentuk tes yang diberikan biasanya
berupa tes objektif yang berbentuk pilihan ganda. Materi yang diberikan
menyangkut gramatika, pemilihan kata, atau penggunaan ejaan dan tanda baca (Spendel
dan Richard, 1990:67 dan Latief, 1990:53).
Untuk menilai keterampilan menulis argumentasi siswa, pada
penelitian ini, penulis menggunakan model atau kriteria yang dikembangkan oleh
Nurgiyantoro (2001:307—308). Deskripsi skala penilaian karangan argumentasi
adalah sebagai berikut.
Tabel
1
Deskripsi
Skala Penilaian Menulis Argumentasi
No.
|
Nilai
|
Komponen
yang dinilai
|
1.
|
|
Syarat
penulisan karangan argumentasi
|
|
|
A. Kesatuan
|
5
|
Memiliki
satu kalimat topik
|
4
|
Memiliki
dua kalimat topik
|
3
|
Memiliki
tiga kalimat topik
|
2
|
Memiliki
empat kalimat topik
|
1
|
Memiliki
lebih dari empat kalimat topik/tidak memiliki kalimat topik sama sekali
|
|
B. Kepaduan
|
5
|
Memperlihatkan
hubungan antarkalimat yang sangat erat
|
4
|
Memperlihatkan
hubungan antarkalimat yang erat
|
3
|
Memperlihatkan
hubungan antar kalimat yang cukup erat
|
2
|
Memperlihatkan
hubungan antarkalimat yang kurang erat
|
1
|
Tidak
memperlihatkan hubungan antarkalimat.
|
|
C. Kelengkapan
|
5
|
Memiliki
kalimat penjelas yang sangat menunjang kalimat utama;
|
4
|
Memiliki
kalimat penjelas yang menunjang kalimat utama;
|
3
|
Memiliki
kalimat penjelas yang cukup menunjang kalimat utama;
|
2
|
Memiliki
kalimat penjelas yang kurang menunjang kalimat utama;
|
1
|
Memiliki
kalimat penjelas yang tidak menunjang kalimat utama.
|
|
D. Urutan
|
5
|
Seluruh kalimat yang membangun karangan argumentasi
memiliki urutan ide secara logis;
|
4
|
Sebagian
besar dari kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan ide
secara logis;
|
3
|
Setengah
dari keseluruhan kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki urutan
ide secara logis;
|
2
|
Sebagian
kecil dari keseluruhan kalimat yang membangun karangan argumentasi memiliki
urutan ide secara logis;
|
1
|
Seluruh
kalimat yang membangun karangan argumentasi tidak memiliki urutan ide secara
logis.
|
2.
|
|
Isi
karangan argumentasi
|
|
|
A. Pernyataan, ide, atau pendapat yang
dikemukakan
|
5
|
Pernyataan,
ide, dan pendapat yang dikemukakan mampu menarik perhatian, meyakinkan dan
mempengaruhi pembaca dengan sangat baik;
|
4
|
Pernyataan,
ide, dan pendapat yang dikemukakan mampu menarik perhatian, meyakinkan dan
mempengaruhi pembaca dengan baik;
|
3
|
Pernyataan,
ide, dan pendapat yang dikemukakan cukup menarik perhatian, meyakinkan, dan
mempengaruhi pembaca;
|
2
|
Pernyataan,
ide, dan pendapat yang dikemukakan kurang menarik perhatian, meyakinkan, dan
mempengaruhi pembaca;
|
1
|
Pernyataan,
ide, dan pendapat yang dikemukakan tidak menarik perhatian, meyakinkan, dan
mempengaruhi pembaca.
|
|
B. Alasan,
data atau fakta yang mendukung
|
5
|
Alasan,
data, dan fakta sangat mendukung bukti kebenaran yang disampaikan;
|
4
|
Alasan,
data, dan fakta membuktikan kebenaran yang disampaikan;
|
3
|
Alasan,
data, dan fakta cukup membuktikan kebenaran yang disampaikan;
|
2
|
Alasan,
data, dan fakta kurang membuktikan kebenaran yang disampaikan; dan
|
1
|
Alasan,
data, dan fakta tidak mebuktikan kebenaran yang disampaikan.
|
|
C. Pembenaran
data dan fakta yang disampaikan
|
5
|
Sangat
membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses
penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis;
|
4
|
Membuktikan
kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses penalaran
dapat diterima sebagai suatu yang logis;
|
3
|
Cukup
membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses
penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis;
|
2
|
Kurang
membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses
penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis; dan
|
1
|
Tidak
membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang disampaikan melalui proses
penalaran dapat diterima sebagai suatu yang logis.
|
3.
|
|
Teknik
|
|
|
A. Kalimat
Efektif
|
5
|
Keseluruhan
karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar, pilihan
kata yang tepat, dan logis;
|
4
|
Sebagian
besar karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar,
pilihan kata yang tepat, dan logis;
|
3
|
Setengah
dari keseluruhan karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang
tepat, dan logis;
|
2
|
Sebagian
kecil karangan argumentasi memiliki kalimat dengan struktur yang benar,
pilihan kata yang tepat, dan logis;
|
1
|
Keseluruhan
karangan argumentasi tidak memiliki kalimat dengan struktur yang benar,
pilihan kata yang tepat, dan logis.
|
|
B. Ejaan:
tanda baca, pemakaian huruf, dan penulisan kata
|
5
|
Tidak
ada kesalahan ejaan
|
4
|
Kesalahan
ejaan antara 1—3
|
3
|
Kesalahan
ejaan antara 4—7
|
2
|
Kesalahan
ejaan lebih dari 7
|
1
|
Semua
penggunaan ejaan salah
|
(http://repository.upi.edu).
Memahami Klasifikasi Mesin engine
ReplyDeletePengendalian Kontaminasi